untuk penggemar, pelatih, atlit, dan pengajar

Ilmu Kepelatihan Olahraga

Pengetahuan sekedarnya saja dalam ilmu-ilmu agaolahr tidak akan banyak menolong atlet. Pengetahuan yang hanya menyentuh permukaan atau fenomena persoalan saja dan bukan inti persoalan yang sebenarnya, tidak akan dapat memberikan hasil-hasil yang memuaskan dan prestasi-prestasi yang optimal, apalagi maksimal. Pengetahuan setengah-setengah saja tentang sesuatu masalah biasanya akan menghasilkan informasi-informasi yang setengah-setengah pula. Malah dalam banyak hal sering menghasilkan info-info yang salah, keliru, atau bertolak-belakang dengan informasi yang dituju. Seperti banyak cendekiawan berkata: “A little learning is a dangerous thing…. It will do more harm than good”, maksudnya pengetahuan yang kurang mendalam bukannya akan menolong atlet, akan tetapi justru bisa lebih mencelakakannya. Dan lebih celaka lagi, petunjuk2 dan latihan2 yang salah tersebut kemudian akan menjadi handicapping habits atau kebiasaan2 yang salah dan yang biasanya di bawa seumur hidup oleh atlet muda kita tersebut. Dan sekali kebiasaan yang salah itu terjadi, sukar kita akan dapat luruskan atau memperbaiki kembali, kecuali dengan merombak keseluruhan gerak dan memulainya kembali dari permulaan. Oleh karena itu, memberikan nasihat yang salah sebenarnya lebih jaht daripada tidak memberi nasiha sama sekali.

Contoh yang penul;is alami dalam panahan, kalau pemanah pada waktu menembak, sudah mempunyai handicapping habits menggerakan lengan kiri ke bawah, maka sungguh sukar untuk memperbaiki lengan tersebut agar tetap tinggal diam pada waktu menembak. Sukarnya mengubah (memperbaiki) suatu kebiasaan yang salah biasanya disebabkan oleh kurang senagnya atlet untuk mengubah teknik yang sudah mapan (meskipun jelas salah), oleh karena setiap perubahan teknik selalu akan menyebabkan penurunan prestasi. Inilah yang tidak senang ditatap oleh atlet, meskipun penurunan tersebut hanyalah untuk sementara saja, dan perubahan teknik tersebut sebenarnya penting untuk peningkatan prestasinya kelak. Dalam olahraga, kalau kita ingin maju, seringkali kita harus mundur selangkah dahulu sebelum mampu malakukan lompatan raksasa ke depan.

Apa yang diuraikan diatas kiranya dapat memperkuat anggapan bahwa coaching itu sbenarnyalah suatu ilmu, atau lebih tepat, suatu ilmu terapan (applied science).

Coaching sebagai seni. Kalau ilmu adalah “the what”, maka seni adalah “the how” dari coaching. Dari penjelasan di atas kita lihat bahwa sains atau ilmu adalah pentinh untuk coaching.

Akan tetapi penguasaan ilmu saja bukan satu2nya sarat untuk bisa menjadi seorang pelatih yang efektif dan baik. Kita tidak bisa hanya mengandalkan diri dengan membaca dan mengikuti

buku – buku tentang coaching dan kemudian mengharapkan bisa menjadi pelatih yang baik, meskipun benar bahwa penguasaan ilmu tentang coaching akan sangat membentu seni coaching kita. Mengapa? Antara lain disebabkan karena setiap situasi coaching sering kali berbeda. Melatih suatu tim atau seorang individu atlet yang sama sekali pun, seringkali menurut keterampilan melatih yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Suatu tim yang berhasil dilatih dengan baik dengan resep A, dalam situasi dan kondisi yang lain, meskipun dilatih dengan resep yang sama, bisa saja tidak berhasil. Demikian pula cara dan gaya yang cocok untuk pelatih A dalam suatu situasi tertentu, mungkin tidak cocok untuk cara dan gaya pelatih B dalam situasi yang sama.

Setiap pelatih harus menemukan sendiri cara dan gaya yang mana yang paling berhasil, dan cara dan gaya yang mana yang kurang berhasil baginya. Seorang pelatih tidak akan bisa efektif kalau dia hanya meniru – niru cara dan gaya pelatih lain, meskipun cara dan gaya peletih lain tersebut efektif bagi pelatih yang lain tersebut. Pelatih harus inovatif, dan kalau perlu, terbuka untuk menyimpang dari tradisi dan kebiasaan yang berlaku. Ini semua menurut art atau seni dari pelatih.

Jadi, kalau coaching juga merupakan suatu seni, dimana kini letak seninya melatih? Seninya terlatak pada implementasi, aplikasi, dan penerapan dari fakta-fakta ilmiah ke dalam bidang coaching. Banyak pelatih yang measa dan berpendapat bahwa cara penerapan ini jauh lebih sukar daripada mempelajari ilmu-ilmu itu sendiri. Disini benar-benar dibutuhkan keahlian, kecakapan, kecerdikaan, bakat, serta seni seorang coach. Oleh karena itu, disini ilmu jiwa akan banyak memegang peranan. Dan biasanya untuk ini bakat serta pengalaman bertahun0tahun merupakan faktor penting atau suatu Conditio Sine Quanon bagi setiap coach. Tanpa seni ini akan kecil kemungkinan seorang pelatih untuk menghasilkan prestasi yang baik bagi para atletnya.

Keterampilan seni coaching hanya akan diperoleh melalui pengalaman, studi, dan pengamatan yang lama dan tekun; dan aplikasi yang sistematis dari ilmu pengetahuan dan skill untuk mencapai tujuan berkembang melalui on-the-job experience yang nyata (Fuoss: 1981).

Melalui contoh2 masalah dibawah ini mungkin pembaca akan mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai pentingnya “jiwa seni” dimiliki oleh seorang pelatih.

Masalah I. dari rumah, seorang pelatih telah merencanakan bahwa para pelari 800m-nya nanti sore akan diberikan Pace Work 6x200m. pada waktu tiba di lapangan, ternyata bahwa 5 orang pelarinya tampaknya agak lesu oleh karena tadi pagi seharian digenjot oleh pak.guru berlatih baris-berbaris guna pertandingan kerapihan berbaris esok lusa.

Melihat kondisi ketiga atletnya demikian, tindakan apa yang kini harus di ambil oleh coach terhadap mereka? Haruskah mereka memenuhi jadwal latihan yang telah direncanakannya tadi pagi? Ataukah mereka di suruh pulang saja? Bagaimana pembaca akan memecahkan persoalan ini?

Masalah II. Tiba2 saja panitia memutuskan bahwa regu PORSENI Jabar jadi berangkat ke PORSENI nasional di Jakarta. Keputusan ini diambil kira2 sebulan sebelum pecan olahraga dan kesenian tersebut diselenggarakan.

Bagaimana rencana latihan anda sebagai pelatih utama yang telah dipercaya oleh panitia dalam memimpin latihan bagi seluruh atlet yang datang dari bermacam-macam fakultas, yang terbagi dalam berbagai cabang olahraga yang terdiri dari pria dan wanita, dan yang breada dalam kondisi fisik yang beraneka ragam itu?

Haruskah anda mengikuti petunjuk umum yang tertulis dalam jadwal latihan Late Season? Haruskah latihan – latihan anda titik beratkan pada penyempurnakan teknik ataukah bulan ini harus anda tekankan pada sebanyak mungkin mengadakan pertandingan uji coba? Bagaimanakah memecahkan persoalan ini?

Demikianlah 2 buah contoh persoalan yang sering timbul dalam dunia coaching dan yang sring kali tidak dapat dipecahkan berdasarkan fakta2 belaka, akan tetapi yang lebih banyak menuntut keterampilan, kcerdikan, serta perasaan dalam melaksanakan fakta2 tersebut. Pendek kata, berdasarkan seni ynag berada pada coach.

Dari fakta2 di atas dapatlah kiranya kita simpulkan bahwa coaching itu bukan hanya suatu ilmu, akan tetapi suatu seni. Atau sebaliknya coaching itu bukan hanya suatu seni akan tetapi suatu ilmu. Oleh karena itu, seorang coach, kecuali seorang jenius, hendaknya seorang seniman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: